Terkini Sinkronisasi data informasi fakta aktual terbaru...

Refleksi Hari Damai Aceh: Belajar dari Aceh Utara Merayakan Perdamaian

Fakta aktual
Agustus 15, 2026
Menghitung...

 

Opini oleh: Wahyu Saputra – Sekretaris Jenderal IKA Unimal

ACEH UTARA, Hari Damai Aceh yang diperingati setiap 15 Agustus bukan sekadar tanggal dalam kalender sejarah. Di baliknya ada perjalanan panjang, luka, pengorbanan, dan harapan masyarakat Aceh untuk hidup dalam suasana aman dan damai. Tahun 2026 menjadi tahun ke-21 sejak perdamaian Aceh lahir melalui MoU Helsinki.

Peringatan tahun ini memberikan refleksi menarik, khususnya dari Aceh Utara. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara melaksanakan peringatan di Landeng dengan zikir dan doa bersama. Suasananya sederhana, tetapi penuh kekhidmatan. Masyarakat berkumpul untuk mendoakan agar perdamaian Aceh terus terjaga.

Bagi saya, inilah makna penting dari Hari Damai Aceh. Perdamaian bukan tentang seberapa megah acara yang digelar, tetapi seberapa dalam masyarakat merasakan arti pentingnya perdamaian.

Belajar dari Aceh Utara

Aceh Utara memiliki sejarah panjang dalam perjalanan konflik Aceh. Karena itu, ketika masyarakat berkumpul untuk berzikir dan berdoa, terdapat pesan kuat bahwa masyarakat yang pernah merasakan pahitnya konflik kini memilih untuk hidup dalam kedamaian.

Perdamaian bukan kemenangan satu kelompok atas kelompok lain. Perdamaian adalah kesempatan bagi seluruh masyarakat untuk hidup aman dan membangun masa depan.

Hal serupa juga terlihat di Banda Aceh ketika ulama dan masyarakat berkumpul di Masjid Raya Baiturrahman untuk berzikir dan berdoa. Ini menunjukkan bahwa semangat perdamaian tidak hanya hidup di ruang pemerintahan, tetapi juga di masjid, gampong, sekolah, dan tengah masyarakat.

Perdamaian Milik Semua

Hari Damai Aceh bukan milik pemerintah, partai politik, mantan kombatan, atau kelompok tertentu. Hari Damai Aceh adalah milik seluruh rakyat Aceh.

Pemerintah memiliki peran penting, tetapi menjaga perdamaian merupakan tanggung jawab bersama. Ulama, tokoh masyarakat, pemuda, akademisi, mantan kombatan, dan masyarakat semuanya memiliki peran.

Perdamaian juga bukan sekadar tidak adanya perang. Perdamaian berarti masyarakat merasa aman, mendapatkan keadilan, memiliki kesempatan hidup lebih baik, dan yakin bahwa konflik tidak akan kembali menjadi pilihan.

Merawat, Bukan Sekadar Merayakan

Dua puluh satu tahun Damai Aceh harus menjadi momentum untuk tidak hanya merayakan, tetapi juga merawat perdamaian. Perdamaian harus hadir dalam pembangunan, keadilan sosial, kesempatan ekonomi bagi generasi muda, serta cara kita menyelesaikan perbedaan.

Dari Aceh Utara kita belajar bahwa peringatan perdamaian tidak harus selalu mewah. Terkadang, doa dan kebersamaan sederhana justru memiliki makna yang lebih dalam.

Pada akhirnya, pemerintah dapat membuat panggung, tetapi masyarakatlah yang menentukan apakah pesan perdamaian itu benar-benar hidup.

Aceh sudah terlalu lama mengenal konflik. Jangan pernah lagi menjadikan konflik sebagai pilihan. Mari menjaga damai dengan menghormati perbedaan, memperkuat persaudaraan, menegakkan keadilan, dan memberi ruang bagi generasi muda untuk membangun masa depan.

Selamat Hari Damai Aceh ke-21 Tahun 2026.

Semoga perdamaian tidak hanya menjadi sejarah yang kita kenang, tetapi menjadi warisan yang kita jaga untuk generasi mendatang.

Wahyu Saputra
Sekretaris Jenderal IKA Unimal
15 Agustus 2026

Berita Terkait