Lhokseumawe — Aris Munandar, anak muda Provinsi Aceh, dinyatakan lulus sebagai salah satu peserta Pemuda Parlemen Indonesia (PPI) Tahun 2026 dan mendapat kesempatan untuk mewakili Aceh dalam forum pemuda tingkat nasional yang mempertemukan generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia.
Kelulusan tersebut diraih setelah Aris melewati rangkaian seleksi yang berlangsung sejak Juni hingga September 2026. Tahapan seleksi meliputi seleksi administrasi, wawancara, Focus Group Discussion (FGD), proses aktualisasi pada lima komite, hingga Youth Catalyst Program PPI Tahun 2026.
Proses tersebut dimulai dengan pengumuman kelulusan seleksi administrasi pada Rabu, 17 Juni 2026. Selanjutnya, Aris mengikuti tahap wawancara pada 21 dan 22 Juni 2026, kemudian mengikuti Focus Group Discussion (FGD) pada 28 dan 29 Juni 2026.
Hasil seleksi tahap kedua yang mencakup wawancara dan FGD diumumkan pada Senin, 6 Juli 2026. Setelah dinyatakan lolos, Aris melanjutkan ke tahapan seleksi aktualisasi pada sejumlah komite sesuai bidang yang telah ditentukan.
Tahapan aktualisasi dimulai dari Komite Pertama pada Sabtu, 25 Juli 2026. Selanjutnya, pada Sabtu, 1 Agustus 2026, ia mengikuti seleksi aktualisasi Komite Kedua bidang pendidikan dan kesehatan. Pada Minggu, 2 Agustus 2026, Aris kembali mengikuti seleksi aktualisasi Komite Ketiga bidang kepemudaan dan pariwisata.
Kemudian, pada Kamis, 6 Agustus 2026, ia mengikuti seleksi Komite Keempat bidang pemerintahan.
Rangkaian tersebut berlanjut dengan seleksi aktualisasi Komite Kelima bidang sosial kemasyarakatan pada Jumat, 21 Agustus 2026. Setelah itu, Aris mengikuti tugas seleksi Youth Catalyst Program PPI Tahun 2026 pada Minggu, 30 Agustus 2026.
Setelah seluruh tahapan dilalui, pengumuman kelulusan final disampaikan pada Selasa, 15 September 2026. Aris dinyatakan lulus dan memperoleh kesempatan untuk mengikuti forum dan menjadi bagian dari Pemuda Parlemen Indonesia serta membawa perspektif pemuda Aceh dalam ruang diskusi nasional.
Aris mengatakan, kesempatan tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang membutuhkan persiapan dan kesungguhan. Menurutnya, setiap tahapan seleksi menjadi bagian dari proses belajar sekaligus ruang untuk menguji kemampuan dalam menyampaikan gagasan.
“Keikutsertaan saya di Pemuda Parlemen Indonesia bukan hanya semata-mata untuk membawa nama daerah. Saya ingin menjadi bagian dari generasi muda yang memahami persoalan di daerahnya dan mampu menyampaikan berbagai isu strategis Aceh melalui ruang dialog yang lebih luas,” ujar Aris.
Menurut Aris, masih terdapat berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Aceh yang perlu terus dibicarakan secara terbuka, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Karena itu, forum pemuda menjadi salah satu ruang untuk menyampaikan pandangan, bertukar gagasan, serta memahami persoalan bangsa dari sudut pandang pemuda yang berasal dari latar belakang daerah yang berbeda.
“Forum Pemuda Parlemen Indonesia mempertemukan anak-anak muda dari berbagai daerah di Indonesia. Pertemuan tersebut memberikan kesempatan kepada saya dan seluruh peserta untuk saling mengenal, berdiskusi, serta melihat berbagai persoalan bangsa dari latar belakang dan pengalaman yang beragam,” katanya.
Ia menilai, ruang dialog bagi generasi muda penting karena persoalan yang dihadapi masyarakat tidak cukup hanya disikapi melalui kritik. Anak muda juga perlu memiliki kemampuan untuk berdialog, membangun komunikasi, memahami persoalan secara utuh, serta ikut mencari jalan keluar.
Kemampuan tersebut, lanjutnya, berkaitan erat dengan social skill atau keterampilan sosial. Seorang anak muda perlu mampu berinteraksi, berkomunikasi, membangun hubungan yang baik, serta menyampaikan kritik secara bermoral dan bertanggung jawab.
“Kritik dari anak muda tetap diperlukan dalam kehidupan demokrasi. Namun, kritik akan lebih berarti apabila diikuti dengan kepedulian dan tindakan nyata. Anak muda tidak cukup hanya mengetahui bagaimana menyampaikan kritik, tetapi juga perlu mengambil ruang dan peran untuk memberikan manfaat bagi masyarakat di lingkungannya masing-masing.”
Aris juga mengingatkan agar ruang publik tidak hanya digunakan untuk mencari perhatian melalui social stunt, yakni tindakan atau aktivitas yang sengaja dibuat secara mencolok atau kontroversial untuk mendapatkan perhatian publik, khususnya di media sosial.
Menurutnya, keterlibatan anak muda di ruang publik seharusnya tetap dibangun dengan tanggung jawab, etika, dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
“Kita semua adalah bangsa yang mempunyai moral dan etika. Karena itu, setiap langkah dan tindakan anak muda harus dilandasi tanggung jawab, sikap saling menghargai, serta keberanian menyampaikan kritik dengan cara yang baik.”
Ia berharap semakin banyak ruang dialog nasional yang dapat dimanfaatkan oleh generasi muda untuk membahas persoalan bangsa, mendengarkan berbagai pandangan, serta memahami kebijakan dan kondisi yang dihadapi masyarakat.
Melalui ruang-ruang tersebut, kata Aris, anak muda dapat melihat persoalan yang belum mendapatkan perhatian, mengetahui upaya yang telah dilakukan, sekaligus memahami bagian-bagian yang masih membutuhkan perbaikan.
Bagi Aris, kesempatan mengikuti Pemuda Parlemen Indonesia bukan sekadar tentang hadir dalam sebuah forum nasional. Lebih dari itu, kesempatan tersebut menjadi ruang belajar untuk membawa pengalaman dan persoalan daerah ke dalam diskusi yang lebih luas.
“Sebagai anak muda Aceh, tentu saya ingin membawa pengalaman dan persoalan daerah ke dalam diskusi yang lebih luas. Pada saat yang sama, saya juga ingin terus membangun kemampuan untuk berkomunikasi, berdialog, dan mengambil peran secara bertanggung jawab.”
Aris berharap keikutsertaannya dalam Pemuda Parlemen Indonesia dapat menjadi bagian dari proses untuk terus belajar dan berkontribusi. Ia juga mengajak generasi muda Aceh agar tidak ragu mengambil kesempatan ketika terdapat ruang untuk belajar, berdialog, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Anak muda Aceh tidak harus menunggu untuk menjadi bagian dari perubahan. Selama tersedia ruang untuk belajar, berdialog, dan berkontribusi, generasi muda dapat mengambil perannya masing-masing untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, daerah, dan bangsa,” tutupnya.
